TUGAS MANDIRI I-AGAMA KRISTEN-KAMPUS ITBI MILENIAL

Nama : Falensius Mendrofa 

Jurusan : Teknik Industri 

Kelas : Pagi






1.Sejarah Gereja HKBP                 TANJUNG SARI MEDAN


 Latar Belakang Masalah 

Musik memegang peranan yang sangat penting dalam masyarakat sepanjang 

zaman, karena musik mempunyai kegunaan dan fungsi di dalam kehidupan 

manusia. Terlebih dari semuanya itu, musik dipakai untuk mencapai tujuan-tujuan 

(Bruno Nettl, 1964:147). Tulisan awal dari etnomusikolog sering berdasar pada 

pandangan dalam sejarah, bahwa manusia selalu menggunakan musik untuk 

mencapai satu tujuan tertentu. Keberadaan musik tidak terlepas dari kehidupan 

manusia. Oleh karena itu musik merupakan bagian dari kehidupan guna 

memenuhi berbagai kebutuhaan hidupnya, termasuk untuk ibadah pada umat 

Kristen Protestan yang salah satu organisasinya adalah Gereja HKBP. 

Gereja HKBP adalah Gereja Protestan terbesar di kalangan masyarakat 

Batak bahkan juga di antara gereja-gereja Protestan yang ada di Indonesia. Gereja 

ini tumbuh dari misi RMG (Rheinische Missions-Gesselschaft) dari Jerman dan 

resmi berdiri pada 7 Oktober 1861. Sejak pertama kali berdiri, HKBP berkantor 

pusat di Pearaja (kota Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara) 

Sebagai Gereja yang berasaskan ajaran Lutheran, HKBP juga menjadi anggota 

dari Federasi Lutheran se-Dunia (Lutheran World Federation) yang berpusat di 

Jenewa, Swiss. 

Musik dalam gereja HKBP memiliki peran penting dalam setiap ibadah 

yang dilaksanakan, baik dalam lingkup gereja maupun di luar gereja. Dalam 

lingkup gereja dapat dilihat bahwa sebahagian tata ibadah adalah menggunakan Latar Belakang Masalah 

Musik memegang peranan yang sangat penting dalam masyarakat sepanjang 

zaman, karena musik mempunyai kegunaan dan fungsi di dalam kehidupan 

manusia. Terlebih dari semuanya itu, musik dipakai untuk mencapai tujuan-tujuan 

(Bruno Nettl, 1964:147). Tulisan awal dari etnomusikolog sering berdasar pada 

pandangan dalam sejarah, bahwa manusia selalu menggunakan musik untuk 

mencapai satu tujuan tertentu. Keberadaan musik tidak terlepas dari kehidupan 

manusia. Oleh karena itu musik merupakan bagian dari kehidupan guna 

memenuhi berbagai kebutuhaan hidupnya, termasuk untuk ibadah pada umat 

Kristen Protestan yang salah satu organisasinya adalah Gereja HKBP. 

Gereja HKBP adalah Gereja Protestan terbesar di kalangan masyarakat 

Batak bahkan juga di antara gereja-gereja Protestan yang ada di Indonesia. Gereja 

ini tumbuh dari misi RMG (Rheinische Missions-Gesselschaft) dari Jerman dan 

resmi berdiri pada 7 Oktober 1861. Sejak pertama kali berdiri, HKBP berkantor 

pusat di Pearaja (kota Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara) 

Sebagai Gereja yang berasaskan ajaran Lutheran, HKBP juga menjadi anggota 

dari Federasi Lutheran se-Dunia (Lutheran World Federation) yang berpusat di 

Jenewa, Swiss. 

Musik dalam gereja HKBP memiliki peran penting dalam setiap ibadah 

yang dilaksanakan, baik dalam lingkup gereja maupun di luar gereja. Dalam 

lingkup gereja dapat dilihat bahwa sebahagian tata ibadah adalah menggunakan

 Latar Belakang Masalah 

Musik memegang peranan yang sangat penting dalam masyarakat sepanjang 

zaman, karena musik mempunyai kegunaan dan fungsi di dalam kehidupan 

manusia. Terlebih dari semuanya itu, musik dipakai untuk mencapai tujuan-tujuan 

(Bruno Nettl, 1964:147). Tulisan awal dari etnomusikolog sering berdasar pada 

pandangan dalam sejarah, bahwa manusia selalu menggunakan musik untuk 

mencapai satu tujuan tertentu. Keberadaan musik tidak terlepas dari kehidupan 

manusia. Oleh karena itu musik merupakan bagian dari kehidupan guna 

memenuhi berbagai kebutuhaan hidupnya, termasuk untuk ibadah pada umat 

Kristen Protestan yang salah satu organisasinya adalah Gereja HKBP. 

Gereja HKBP adalah Gereja Protestan terbesar di kalangan masyarakat 

Batak bahkan juga di antara gereja-gereja Protestan yang ada di Indonesia. Gereja 

ini tumbuh dari misi RMG (Rheinische Missions-Gesselschaft) dari Jerman dan 

resmi berdiri pada 7 Oktober 1861. Sejak pertama kali berdiri, HKBP berkantor 

pusat di Pearaja (kota Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara) 

Sebagai Gereja yang berasaskan ajaran Lutheran, HKBP juga menjadi anggota 

dari Federasi Lutheran se-Dunia (Lutheran World Federation) yang berpusat di 

Jenewa, Swiss. 

Musik dalam gereja HKBP memiliki peran penting dalam setiap ibadah 

yang dilaksanakan, baik dalam lingkup gereja maupun di luar gereja. Dalam 

lingkup gereja dapat dilihat bahwa sebahagian tata ibadah adalah menggunakan   Latar Belakang Masalah 

Musik memegang peranan yang sangat penting dalam masyarakat sepanjang 

zaman, karena musik mempunyai kegunaan dan fungsi di dalam kehidupan 

manusia. Terlebih dari semuanya itu, musik dipakai untuk mencapai tujuan-tujuan 

(Bruno Nettl, 1964:147). Tulisan awal dari etnomusikolog sering berdasar pada 

pandangan dalam sejarah, bahwa manusia selalu menggunakan musik untuk 

mencapai satu tujuan tertentu. Keberadaan musik tidak terlepas dari kehidupan 

manusia. Oleh karena itu musik merupakan bagian dari kehidupan guna 

memenuhi berbagai kebutuhaan hidupnya, termasuk untuk ibadah pada umat 

Kristen Protestan yang salah satu organisasinya adalah Gereja HKBP. 

Gereja HKBP adalah Gereja Protestan terbesar di kalangan masyarakat 

Batak bahkan juga di antara gereja-gereja Protestan yang ada di Indonesia. Gereja 

ini tumbuh dari misi RMG (Rheinische Missions-Gesselschaft) dari Jerman dan 

resmi berdiri pada 7 Oktober 1861. Sejak pertama kali berdiri, HKBP berkantor 

pusat di Pearaja (kota Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara) 

Sebagai Gereja yang berasaskan ajaran Lutheran, HKBP juga menjadi anggota 

dari Federasi Lutheran se-Dunia (Lutheran World Federation) yang berpusat di 

Jenewa, Swiss. 

Musik dalam gereja HKBP memiliki peran penting dalam setiap ibadah 

yang dilaksanakan, baik dalam lingkup gereja maupun di luar gereja. Dalam 

lingkup gereja dapat dilihat bahwa sebahagian tata ibadah adalah menggunakan

musik, di antaranya: nyanyian jemaat, koor, nyanyian song leader, dan alat musik 

pengiring ibadah. 

Seperti halnya pada gereja HKBP Tanjung Sari Medan mengalami 

perubahan sejalan dengan perkembangan teknologi, jenis nyanyian maupun 

pemakaian alat musik. Sekarang alat musik yang dipakai dalam ibadah selain 

organ gereja, di antaranya: keyboard, piano, biola, gitar akustik, bas, drum, 

saxophone, taganing, dan sulim.

Pada tahun 1984 HKBP Tanjung Sari Medan telah menggunakan alat musik 

poti marende (organ pompa) untuk mengiringi lagu-lagu yang ada di dalam Buku 

Ende (yang berisikan lagu-lagu yang berbahasa Batak Toba) dan Kidung Jemaat 

Yamuger (yang berisikan lagu-lagu berbahasa Indonesia). Kemudian pada tahun 

1990 alat musik poti marende digantikan sebuah alat musik piano elektrik sebagai 

alat musik yang dipakai dalam ibadah untuk mengiringi lagu-lagu dalam Buku 

Ende dan Kidung Jemaat. Pada tahun 1995 piano elektrik digantikan dengan 

piano clavinova dengan alasan bertambahnya jemaat yang beribadah dan juga 

perkembangan zaman. 

Pada tahun 2004 kegiatan dalam bidang musik secara khusus menfasilitasi 

pelatihan kepada remaja dan pemuda agar semakin mahir menggunakan alat 

musik pada kebaktian Minggu pagi. Alat musik yang dipakai dalam mengiringi 

ibadah adalah piano, keyboard, biola, saxophone, bas, gitar akustik, dan drum. 

Semula, masing-masing pemain musik membawa alat musik yang dipakai dalam 

kebaktian pagi. Menurut St. Drs. Juandi Sidabautar, M.Si. yang memplopori terjadinya 

perubahan alat musik, pada awalnya sebahagian jemaat ada yang protes dengan 

bertambahnya alat-alat musik dalam mengiringi ibadah. Namun menurutnya, 

demi mempertahankan anak-anak supaya tidak pergi beribadah ke gereja yang 

lain, maka dibuat lah penambahan alat musik untuk mengiringi ibadah Minggu 

pagi (dalam agenda HKBP), ibadah Minggu siang (dalam agenda HKBP) dan 

ibadah Minggu sore (tidak agenda HKBP/ibadah alternatif1

). 

Pada tahun 2007 sound system di Gereja HKBP Tanjung Sari belum 

memadai. Menurut Mareza Nababan2

 sebagai pemusik, pada saat mengiringi 

ibadah memakai alat band seadanya. Seperti apa suara alat musik yang dimainkan, 

seperti itu juga yang di dengar jemaat, maksud nya belum bisa di atur melalui 

mixer. 

Pada tahun 2007 HKBP Tanjung Sari melakukan penggalangan dana untuk 

membeli sound system dan alat-alat musik. Pada bulan Mei 2008, semua alat-alat 

musik band dan sound system telah dibeli sebagai inventaris jemaat HKBP 

Tanjung Sari Medan. Dengan bertambahnya alat-alat musik dalam mengiringi 

ibadah, jemaat yang menghadiri ibadah di HKBP Tanjung Sari pun semakin 

bertambah. 

Pada tahun 2012 alat musik tradisional Batak Toba bertambah yaitu 

taganing dan sulim yang dipelopori oleh Betman Simbolon, S.Pd. sebagai pelatih 

musik. Menurut B. Simbolon selaku informan, masuknya alat musik tradisional ke 

 

1

Ibadah alternatif adalah ibadah yang di konsep dengan agenda sendiri di luar Agenda 

yang biasa. 

2Wawancara peneliti dengan beliau tanggal 17 Mei 2018 di Gereja HKBP Tanjung Sari 

Medan. 


gereja tidak dilihat dari kesakralan alat musiknya tetapi dengan tujuan untuk 
memuji Tuhan. 
Perubahan ini merupakan usaha para pecinta seni di gereja yang dilakukan 
oleh Dewan Marturia3
 gereja bersama tim musik gereja yang terus berupaya untuk 
membuat ibadah menjadi ungkapan terima kasih dari isi hati orang percaya yang 
diungkapkan dalam bunyi-bunyian yang bernada dan berirama secara harmoni, 
yaitu dalam bentuk lagu dan nyanyian. 
Sesuai dengan sepuluh fungsi musik yang diutarakan oleh Alan P. 
Merriam, yang salah satunya adalah fungsi pengungkapan emosional, yang 
berkaitan dengan perubahan yang terjadi setelah peralatan musik yang dipakai 
dalam ibadah, karena lagu-lagu yang dimainkan dapat semakin menyentuh 
perasaan jemaat yang beribadah sehingga lebih bersemangat dan penuh sukacita 
dalam memuji dan memuliakan Tuhan. Fungsi musik seperti di atas juga adalah 
untuk mempertahankan jemaat generasi muda agar tetap memuji Tuhan di Gereja 
HKBP Tanjung Sari Medan, karena sesuai dengan selera musikalnya, tanpa 
mengurangi nilai-nilai ibadah, juga sesuai dengan perkembangan zaman. Jemaat 
yang beribadah di gereja HKBP Tanjung Sari Medan semakin banyak mulai dari 
terjadinya perubahan alat musik dalam mengiringi ibadah. Jadi penulis mendapat 
fungsi musik dalam ibadah salah satunya untuk menambah jemaat. Karena banyak 
jemaat yang suka menikmati musik dalam beribadah. Hal ini sesuai dengan 
wawancara yang dilakukan penulis dengan informan Betman Simbolon, St. Drs. 
Juandi Sidabutar M.Si., Dan Mareja Nababan. 
 
3Dewan Marturia adalah organ pelayanan di tingkat jemaat,yang merencanakan dan 
melaksanakan pekerjaan memberitahukan injil di tengah-tengah jemaat dan masyarakat, yang 
mencakup seksi pekabaran injil dan seksi musik. 

Perubahan musik di Gereja HKBP Tanjung Sari Medan baik dalam kidung 

pujian dan pemakain alat musik akan memberikan dampak kepada jemaat dan 

juga dalam ibadah. Karena masih jarang alat musik tradisional dipadukan dengan 

alat musik modern mengiringi ibadah di gereja-gereja HKBP. Berdasarkan uraian 

di atas peneliti termotivasi untuk meneliti lebih lanjut dengan memilih judul 

dalam penelitian ini “Analisis Perubahan dan Fungsi Musik dalam Ibadah Di 

Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) Tanjung Sari Medan.”

1.2 Pokok Permasalahan 

Berdasarkan uraian latar belakang masalah, maka yang menjadi titik perhatian 

penelitian penulis adalah: 

1. Bagaimana perubahan musik di Gereja HKBP Tanjung Sari Medan? 

2. Bagaimana fungsi musik di Gereja HKBP Tanjung Sari Medan? 

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 

1.3.1 Tujuan Penelitian

Tujuan dari pada penelitian ini adalah:

1. Untuk menganalisis perubahan musik di Gereja HKBP Tanjung Sari Medan. 

2. Untuk menganalisis fungsi musik di Gereja HKBP Tanjung Sari Medan.

Manfaat Penelitian 

Setiap penelitian hasilnya akan bermanfaat, karena penelitian akan 

mendapat dan mengetahui keberadaan budaya dan seni ini yang kurang di 

mengerti banyak orang. Penelitian ini di harapkan dapat memberi manfaat sebagai 

berikut:

1. Memberikan bahan informasi bagi setiap pembaca. 

2. Memberikan pemahaman tentang perubahan Musik di Gereja HKBP Tanjung 

Sari Medan. 

3. Memberikan pemahaman tentang fungsi musik di Gereja HKBP Tanjung Sari 

Medan. 

4. Menambah sumber kepustakaan, khusunya program studi Etnomusikologi 

USU.

1.4 Konsep dan Teori 

1.4.1 Konsep 

Konsep adalah kesatuan pengertian tentang sesuatu hal atau persoalan yang 

perlu dirumuskan. Konsep juga merupakan rancangan ide atau pengertian yang 

diabstrakkan dari peristiwa konkret (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai 

Pustaka, 1991:431). Untuk memperjelas konsep yang akan penulis gunakan dalam 

tulisan ini, maka perlu dijelaskan yang menjadi topik utama dalam pembahasan 

yakni mengenai perubahan dan fungsi. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka tahun 1991, 

analisis adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahanbagian itu sendiri serta hubungan antar bagian untuk memperoleh pengertian yang 

tepat dan pemahaman arti keseluruhan. Dengan demikian, kata analisis dalam 

tulisan ini berarti hasil analisa dari objek penelitian. 

Analisis yang penulis maksud dalam tulisan ini adalah untuk menguraikan, 

menelaah secara jelas dan terperinci mengenai perubahan terkhususnya alat musik 

pengiring ibadah dari mulai berdirinya Gereja tahun 1984 sampai dengan 

sekarang serta fungsi musik dalam ibadah HKBP Tanjung Sari Medan. 

Shin Nakagawa (2000:17) perubahan musik itu bisa muncul dari dalam, 

akan tetapi perubahan lebih dinamis terjadi karena pertemuannya dengan 

kebudayaan musik lain. Dengan kata lain, perubahan yang terjadi disebabkan oleh 

dua faktor yaitu faktor dari dalam (internal) dan faktor dari luar (eksternal). 

Perubahan yang dimaksud dalam tulisan ini yakni perubahan alat musik dalam 

mengiringi ibadah di gereja HKBP Tanjung Sari Medan. 

Berkenaan dengan musik, Ramsey Wiley (2002:55) bahwa pengertian 

musik adalah karunia Ilahi, dimana musik ini disampaikan melalui medium bunyi, 

baik itu berupa suara manusia, alat musik maupun gabungan dari keduanya. 

Selian itu, menurut Sunarko (1985:5) musik adalah penghayatan isi hati manusia 

yang diungkapkan dalam bentuk bunyi yang teratur dalam melodi atau ritme serta 

mempunyai unsur atau keselarasan yang indah. Menurut Hardjana (2003:111) 

Musik adalah permainan waktu dengan mengadopsi bunyi sebagai materinya. 

Musik adalah waktu dalam bunyi. Dalam musik, waktu adalah ruang, bunyi 

adalah substansinya. Di dalam ruang waktu itulah bunyi-bunyi bergerak.Musik gereja adalah suatu unsur musikal yang di pakai dalam rangka 

ibadah, baik nyanyian, instrumen maupun alat musik. Musik sangat berguna jika 

membuat seluruh anggota jemaat merasa senang dan bertumbuh untuk memuji 

Tuhan. Musik menjadi medium yang lebih efektif untuk membantu jemaat 

mengepresikan imannya. 

Ester Santoso (2003:48) fungsi dari musik itu melibatkan akan interpretasi 

mengapa musik itu digunakan dan bagaimana musik itu bisa mempengaruhi 

kehidupan manusia. Orang yang berbeda mempunyai interpretasi yang berbeda 

terhadap musik itu sendiri. 

Gereja adalah persekutuan orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus. 

Khotimah, (2015:4) Kata “gereja” berasal dari bahasa Portugis ”igreja,” dan 

bahasa Yunani “ekklesia” yang berarti “suatu perkumpulan atau lembaga dari 

agama Kristen. Istilah Yunani ekklesia yang ada dalam Perjanjian Baru

diterjemahkan sebagai “jemaat.” 

Secara umum pengertian gereja mengandung beberapa pengertian praktis 

yaitu: pertama, ialah “umat” atau “persekutuan orang Kristen”. Dengan demikian, 

gereja pada awalnya bukan lah sebuah gedung, melainkan persekutuan umat atau 

pengikut Yesus Kristus. Gereja bukanlah kelompok manusia yang berdiri atas 

inisiatif sendiri, tetapi Kristus-lah dengan perantara firman dan roh itulah yang 

mengumpulkan para jemaat itu. Kedua, adalah “sebuah perhimpunan atau 

pertemuan ibadah umat Kristen. Ketiga, adalah “mazhab (aliran) atau denominasi 

dalam agama Kristen. Keempat, adalah “lembaga (administratif) dari sebuahmazhab Kristen. Kelima, juga arti umum adalah sebuah “rumah ibadah umat 

Kristen, dimana umat bisa berdoa”. 

Secara umum, hari Minggu adalah hari ibadahnya orang Kristen di Gereja. 

Dalam kegiatan peribadatan di Gereja HKBP Tanjung Sari Medan setiap Minggu 

terdiri dari 4 sesi dan alat musik untuk mengiringi ibadahnya berbeda-beda 

seperti, sesi: (1) pertama masuk pukul 06:00 WIB sampai dengan pukul 07:30 

WIB yang disebut ibadah subuh dengan menggunakan alat musik dua keyboard

saja, (2) sesi kedua masuk pukul 08:00 WIB sampai dengan pukul 09:30 WIB 

yang disebut ibadah pagi dengan menggunakan alat musik keyboard, biola, gitar 

akustik, drum, bas, saxophone, taganing, dan sulim, (3) ibadah dak-danak atau 

ibadah sekolah minggu masuk pukul 08.00 WIB dengan menggunakan alat musik 

keyboard tunggal dan menggunakan style pada keyboard tersebut, (4) Sesi ketiga 

masuk pukul 10:30 WIB sampai dengan pukul 12:00 WIB yang disebut ibadah 

siang dengan menggunakan alat musik keyboard, gitar akustik, saxophone dan (5) 

sesi keempat masuk pukul 17:00 WIB sampai dengan pukul 18:30 WIB yang 

disebut ibadah sore dengan menggunakan alat musik keyboard, piano, drum, gitar 

akustik, bas, saxophone. 

Adapun yang menjadi fokus penelitian penulis yaitu untuk mengkaji ibadah 

Minggu pagi karena terlihat jelas perubahan alat musik yang mengiringi nyanyian 

dalam ibadah seperti penggabungan antara musik band dan musik tradisional 

Batak Toba. Ibadah pagi di Gereja HKBP Tanjung Sari Medan di mulai pada 

tahun 2000 yang telah memakai bahasa Indonesia dalam ibadah. Dalampengamatan penulis terlihat bahwa jemaat bernyanyi dengan semangat, ibadah 

lebih hidup dan jemaat yang datang beribadah semakin bertambah. 

1.4.2 Teori 

 Marzuki (1999:33) menyebutkan bahwa teori merupakan prinsip-prinsip 

umum yang ditarik dari fakta-fakta dan juga dugaan yang menerangkan sesuatu. 

Oleh karena itu, dalam pembahasan ini teori dapat digunakan sebagai landasan 

dan kerangka berpikir dalam membahas setiap permasalahan. 

1.4.2.1 Teori Perubahan 

 Soerjono Soekanto (1983) menyatakan bahwa perubahan masyarakat dapat 

dibagi ke dalam dua bentuk yaitu perubahan dikehendaki atau direnacanakan dan 

perubahan tidak dikehendaki atau tidak direncanakan. Perubahan dikehendaki atau 

direncanakan merupakan perubahan yang direncanakan oleh pihak-pihak yang 

hendak mengadakan perubahan dalam masyarakat. Sedangkan perubahan yang 

tidak dikehendaki atau direncanakan merupakan perubahan-perubahan yang 

terjadi tanpa dikehendaki berlangsung di luar jangkauan pengawasan masyarakat 

dan dapat menyebabkan timbulnya akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan 

masyarakat. Lebih jauh Ihromi (1987:32) mengatakan bahwa suatu kebudayaan 

tidaklah bersifat statis, melainkan selalu berubah dengan kemajuan zaman sebab 

kebudayaan bukanlah suatu hal yang lahir hanya sekali. 

 Merriam (1964:172) mengemukakan bahwa perubahan dapat berasal dari 

dalam lingkungan kebudayaan atau internal dan perubahan juga dapat berasal dariluar kebudayaan atau eksternal. Perubahan secara internal merupakan perubahan 

yang timbul dari dalam dan dilakukan oleh pelaku-pelaku kebudayaan itu sendiri 

dan disebut juga inovasi. Sedangkan perubahan eksternal merupakan perubahan 

yang timbul akibat pengaruh dari luar lingkup kebudayaan tersebut. Sama halnya 

dengan perubahan yang terjadi di Gereja HKBP Tanjung Sari Medan dengan 

menggunakan berbagai alat musik dalam ibadah. Dalam hal ini timbul perubahan 

internal yang ingin membuat sebuah inovasi untuk kemajuan dalam bermusik. 

Sedangkan perubahan eksternal dapat dilihat dari gereja lain yang telah 

menggunakan peralatan musik modern. 

1.4.2.2 Teori Fungsionalisme 

 Teori fungsionalisme dalam ilmu Antropologi mulai dikembangkan oleh 

seorang pakar yang sangat penting dalam sejarah teori antropologi, yaitu 

Bronislaw Malinowski (1884-1942). Ia kemudian mengembangkan suatu 

kerangka teori baru untuk menganalisis fungsi kebudayaan manusia, yang 

disebutnya dengan teori fungsionalisme kebudayaan, atau a funcitional theory of 

culture. 

Bagi Malinowski (Ihromi, 2006), mengajukan sebuah orientasi teori yang 

dinamakan fungsionalisme, yang beranggapan atau berasumsi, bahwa semua 

unsur kebudayaan bermanfaat bagi masyarakat dimana unsur itu terdapat. Dengan 

kata lain, pandangan fungsionalime terhadap kebudayaan mempertahankan bahwa 

setiap pola kelakuan yang sudah menjadi kebiasaan, setiap kepercayaan dan sikap 

yang merupakan bagian dari kebudayaan dalam suatu masyarakat, memenuhibeberapa fungsi mendasar dalam kebudayaan yang bersangkutan. Pandangan 

Malinowski, fungsi dari suatu kebudayaan adalah kemampuannya untuk 

memenuhi beberapa kebutuhan dasar yaitu kebutuhan sekunder dari para warga 

suatu masyarakat. 

Pemikiran Malinowski mengenai syarat-syarat metode geografi 

berintegrasi secara fungsional yang dikembangkannya dalam kuliah-kuliahnya 

tentang metode-metode penelitian lapangan dalam masa penulisannya ketiga buku 

etnografi mengenai kebudayaan Trobriand selanjutnya, menyebabkan bahwa 

konsepnya mengenai fungsi sosial dari adat, tingkah laku manusia, dan pranata-

pranata sosial. Dalam hal itu ia membedakan antara fungsi sosial dalam tiga 

tingkat abstraksi (Koentjaraningrat, 1987:167), yaitu: 

1. Fungsi sosial dari suatu adat, pranata sosial atau unsur kebudayaan 

pada tingkat abstraksi pertama mengenai pengaruh atau efeknya, 

terhadap adat, tingkah laku manusia dan pranata sosial yang lain dalam 

masyarakat; 

2. Fungsi sosial dari suatu adat, pranata sosial atau unsur kebudayaan 

pada tingkat abstraksi mengenai pengaruh atau efeknya, terhadap 

kebutuhan suatu adat atau pranata lain untuk mencapai maksudnya, 

seperti yang dikonsepsikan oleh warga masyarakat yang bersangkutan; 

3. Fungsi sosial dari suatu adat, pranata sosial atau unsur kebudayaan 

pada tingkat abstraksi ketiga mengenai pengaruh atau efeknya, 

terhadap kebutuhan mutlak untuk berlangsungnya secara integrasi dari 

suatu sistem sosial tertentu. 

Contohnya unsur kebudayaan yang memenuhi kebutuhan akan makanan 
menimbulkan kebutuhan sekunder yaitu kebutuhan untuk kerja sama dalam 
pengumpulan makanan atau untuk produksi, untuk ini masyarakat mengadakan 
bentuk-bentuk organisasi dan pengawasan sosial yang menjamin kelangsungan 
kewajiban kerja sama tersebut di atas. Jadi menurut pandangan Malinowski 
tentang kebudayaan, semua unsur kebudayaan akhirnya dapat dipandang sebagai 
hal yang memenuhi kebutuhan dasar para warga masyarakat. 
 Berkenaan dengan fungsi musik, penulis akan merujuk pada teori yang 
ditawarkan Alan P. Merriam (1964:223-226) dalam bukunya The Anthropology of 
Music yaitu penggunaan (uses) dan fungsi (function) merupakan salah satu 
masalah yang terpenting dalam Etnomusikologi. Fungsi musik berkaitan dengan 
tujuan pemakaian musik tersebut. 
 Merriam (1964:210) menyebutkan ada penggunaan dan fungsi dalam 
musik. Menurutnya yang dimaksud penggunaan (uses) dan fungsi (functions) 
adalah sebagai berikut: "Use" then, refers to the situation in which music is 
employed in human action; "function" concerns the reasons for its 
employment and particularly the broader purpose which it serves. Artinya 
penggunaan merujuk kepada situasi di mana musik itu dilibatkan dalam kegiatan 
manusia. Seterusnya, fungsi sangat berkaitan dengan alasan-alasan mengapa 
musik itu dipertunjukkan dan meliputi tujuan yang lebih jauh dibandingkan 
dengan hanya sekedar keterlibatannya. 
 Di dalam buku Alan P. Merriam juga disebutkan bahwa terdapat sepuluh 
contoh fungsi musik dalam kebudayaan manusia, yaitu: (1) fungsi pengungkapanemosional; (2) fungsi pengungkapan estetika; (3) fungsi hiburan; (4) fungsi 
komunikasi; (5) fungsi perlambangan; (6) fungsi reaksi jasmani; (7) fungsi yang 
berkaitan dengan norma sosial; (8) fungsi pengesahan lembaga sosial dan upacara 
keagamaan; (9) fungsi kesinambungan kebudayaan; dan (10) fungsi 
pengintregasian masyarakat. 
Berkenaan dengan teori Allan P. Merriam mengenai use and function atau 
penggunaan dan fungsi musik, bahwa penggunaan musik dalam ibadah dapat 
dilihat ketika musik digunakan sebagai pengiring ibadah, dan musik juga 
digunakan ketika para tim musik selalu melakukan latihan terlebih dahulu 
sebelum ibadah Minggu dilaksanakan. diluar dari peribadahan musik juga dapat 
digunakan seperti halnya ketika jemaat Gereja HKBP Tanjung Sari Medan 
melakukan acara syukuran, ulang tahun Gereja, acara pemberkatan pernikahan, 
dan lain-lain. Itu sebabnya peran musik sangat penting dalam ibadah yang 
digunakan sebagai media untuk memuji Tuhan. Mengenai 10 fungsi musik Allan 
P. Merriam diatas, maka musik dalam ibadah pada Gereja HKBP Tanjungsari 
Medan, digolongkan ke dalam fungsi pengungkapan emosional, fungsi estetika, 
fungsi hiburan, fungsi komunikasi, fungsi reaksi jasmani, fungsi yang berkaitan 
dengan norma-norma sosial, fungsi kesinambungan kebudayaan, dan fungsi 
pengintegrasian masyarakat. Namun demikian, penulis juga berdasarkan 
penelitian lapangan akan menafsirkan fungsi-fungsi lainnya terhadap musik dan 
perubahan pada jemaat HKBP Tanjung Sari Medan.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan deskriptif analisis dengan 
pendekatan multidisiplin di bawah payung disiplin etnomusikologi. Menurut Nettl 
(1964:262) penelitian digunakan pada disiplin etnomusikologi karena penelitiaan 
ini fokus pada musik sebagai dari kebudayaan dan struktur musik. Pada dasarnya 
etnomusikologi berurusan dengan musik-musik yang masih hidup (termasuk di 
dalamnya instrumen-instrumen musikal dan tari) yang terdapat di dalam tradisi 
lisan. Koentjaraningrat (1990:29), mengatakan bahwa penelitian yang bersifat 
deskkriptif adalah bertujuan untuk memaparkan secara tepat sifat-sifat suatu 
individu, keadaan, gejala, atau kelompok tertentu untuk menentukan frekuensi 
atau penyebaran dari suatu gejala ke gejala lain dalam suatu masyarakat. 
 Penelitian ini menerapkan Merriam (1964:7-8) mengenai tiga tahapan 
dalam penelitian Etnomusikologi, yaitu: 
1. Mengumpulkan data;
2. Memilahnya kepada dua jenis analisis yakni: 
a. Menelaah bahan-bahan etnografi dan etnologi yang dikumpulkan 
dengan cara mengkaji secara ilmiah dan rasional mengenai praktik 
musik, perilaku, dan konsep-konsep dalam masyarakat untuk 
melihat apakah sesuai dengan hipotesis dan rancangan awal,
b. Laboratorium terhadap bahan-bahan musik yang telah 
dikumpukan, hal ini menuntut teknik dan terkadang alat bantu 
khusus dalam membuat transkrip dan analisis struktur musiknya.Simbol-simbol di atas merupakan simbol-simbol yang terdapat dalam 
lampiran partitur yang perlu diketahui agar pembaca memahami makna-
maknanya. 
Studi Kepustakaan 
 Studi kepustakaan ini diperlukan untuk mendapatkan data mengenai topik 
penelitian, landasan teori, dan data-data pendukung lainnya melalui buku-buku 
terbitan, jurnal, artikel, dan situs internet sehingga diperoleh data yang valid. 
Koentjaraningrat (2009:35) menyatakan bahwa studi pustaka bersifat penting 
karena membantu penulis untuk menemukan gejala-gejala dalam objek penelitian.              
Observasi 
Observasi atau pengamatan sebagai suatu teknik pengumpulan data dalam 
penelitian ini mengacu kepada Harsja dalam Koentjaraningrat (1991:108) 
mengatakan bahwa usaha pengamatan atau observasi yang cermat, dapat dianggap 
sebagai salah satu cara penelitian ilmiah yang paling sesuai bagi para ilmuan 
dalam bidang ilmu-ilmu sosial di negara-negara yang belum dapat 
mengambangkan prasarana penelitian yang memerlukan biaya yang amat banyak. 
Pengumpulan bahan keterangan mengenai kenyataan yang hendak dipelajari 
dengan menggunakan cara pengamatan, dapat diselenggarakan oleh seorang 
peneliti atau kelompok peneliti. 
 Dalam hal ini, peneliti harus mengamati bagaimana suasana peribadatan 
dengan konsep musik yang dibentuk, mengamati bagaimana suasana peribadatan dengan konsep musik yang ditampilkan, mengamati jenis-jenis musik yang 
digunakan, serta hal-hal lain yang terjadi pada pelaksanaan ibadah. 
Wawancara 
 Menurut Koentjaraningrat, (1997:162) wawancara adalah satu teknik 
pengumpulan data, merupakan suatu cara yang digunakan seseorang untuk tujuan 
suatu tugas tertentu, mencoba mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan 
dari seseorang responden, dengan cara bercakap-cakap berhadapan muka dengan 
orang itu. 
 Salah satu jenis wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah 
wawancara tidak berstruktur (bebas) karena dalam wawancara ini tidak semua 
orang akan diminta informasi. Tetapi penulis akan melakukan wawancara 
terhadap orang-orang yang berperan penting di gereja HKBP Tanjung Sari 
Medan. Penulis juga melakukan wawancara dengan beberapa seniman musik atau 
pemain musik dalam ibadah, sebahagian jemaat guna untuk mendapatkan data 
tentang perubahan dan fungsi musik dalam ibadah di Gereja HKBP Tanjung Sari 
Medan. 
Perekaman 
Perekaman dalam penelitian sangat penting untuk mengumpulkan data. 
Perekaman, dalam hal ini penulis merencanakan atau melakukan perekaman 
dengan 2 cara, yaitu; (a) perekaman yang akan di lakukan yaitu perekaman video 
dengan menggunakan kamera Nikon. Perekaman ini nanti yang berfungsi sebagai
bahan analisis tekstual dan musikal; (b) Untuk mendapatkan dokumentasi dalam 
bentuk gambar penulis akan menggunakan kamera Canon. Pengambilan gambar 
atau video ini nanti dilakukan setelah kesepakatan antara pihak gereja dan pemain 
musik pengiring dalam ibadah. 
Kerja Laboratorium 
Pelaksanaan kerja laboratorium, penulis akan mengumpulkan data mulai 
dari wawancara, dokumentasi dan perekaman yang diurai secara rinci. Data 
perekaman audio menjadi objek yang diteliti oleh penulis dengan cara 
ditranskripsikan apa yang didengar dan menuliskannya kedalam notasi balok. 
Setelah semua data yang diperoleh dari lapangan maupun bahan dari studi 
kepustakaan terkumpul, selanjutnya dilakukan pembahasan dan penyusunan 
tulisan. Sehinga hasil dari pengolahan data dan penganalisaan disusun secara 
sistematis dengan mengikuti kerangka penulisan.
Lokasi Penelitian 
 Yang menjadi tempat lokasi penelitian penulis adalah Jl.Setia Budi No.11, 
Tanjung Sari, Medan Selayang, Kota Medan, Sumatera Utara 20132, Indonesia. 
Penulis memilih lokasi ini karena di Gereja tersebut ada perbedaan konsep musik 
untuk mengiringi ibadah. Selain itu, penulis juga pelayanan di gereja tersebut, 
sehingga mempermudah penulis untuk melakukan penelitian terhadap perubahan 
dan fungsi musik di gereja HKBP Tanjung Sari Medan. 
🙏GAMBARAN UMUM GEREJA 
🙏HKBP TANJUNG SARI MEDAN 
🙏DALAM KONTEKS HKBP 
👉 Dalam Bab II ini, penulis akan memaparkan sejarah singkat Gereja HKBP 
secara umum dan juga sejarah mengenai Gereja HKBP Tanjung Sari Medan. 
Sejarah Gereja HKBP secara umum akan memberikan informasi tentang 
berdirinya HKBP pada awalnya. Pembahasan sejarah HKBP Tanjung Sari Medan 
yakni memberikan informasi tentang latar belakang berdirinya gereja serta 
perkembangannya sampai sekarang. 
2.1 Sejarah Berdirinya HKBP 
 Penetapan hari jadi HKBP tanggal 7 Oktober 1861 memiliki makna 
sejarah dan teologis yang mendalam. Sejarah penginjilan dan sejarah gereja 
adalah ibarat dua sisi dari satu mata uang yang sama. Gereja tanpa penginjilan 
bukanlah gereja. Itulah sebabnya peristiwa 7 Oktober 1861 diartikan dan 
dimaknai dari dua segi, yakni penginjilan dan gereja. 
Hasil penginjilan di Tanah Batak adalah agama Kristen atau Kekristenan 
yang di dalamnya terdapat sejumlah jemaat atau “pargodungan” (setasi sending
dan sekaligus huria/ jemaat). Jemaat-jemaat tersebut sejak awal sudah diarahkan 
akan membentuk sebuah gereja sending yang kelak menjadi sebuah gereja yang 
mandiri dari sending. 
 Pada awalnya tanggal 7 Oktober 1861 adalah titik balik penginjilan dari 
lembaga sending Rhein di dunia ini. Karena jauh sebelum tahun 1861 sendingRhein telah membuka daerah penginjilan di Namibia- Afrika Selatan, Cina, 
Kalimantan dan di Afrika Utara. Tetapi sejak 7 Oktober 1861 dibuka suatu daerah 
penginjilan baru di Sumatera, “Bataklanden” atau Tanah Batak. Daerah 
penginjilan baru ini di beri nama “Battamission” yang kemudian disebut “ Batak 
Mission” atau “Mission- Batak”. Tanggal lahir Batak Mission di tentukan pada 7 
Oktober 1861 bertepatan dengan tanggal dari rapat pertama para penginjil utusan 
RMG (Rheinische Mission Gesselschaf) di Tanah Batak. 
 Badan Zending (penginjilan) RMG berdiri di Barmen, Jerman pada tahun 
1828 sebagai gabungan badan-badan zending di Jerman yang dilatar belakangi 
kesalehan, kebangunan rohani dan kebangunan pekabaran Injil. Pada tanggal 
tersebut, dua missionaris RMG yang sebelumnya bekerja di Kalimantan yakni 
Klammer dan Betz bersama dua missionaris dari Ermelo, yakni Van Asselft dan 
Heine melakukan Rapat di Sipirok untuk memulai pekerjaan RMG di Tanah 
Batak. Di samping itu, pada tahun itu juga ditandai dengan masuknya orang Batak 
menjadi Kristen untuk pertama kalinya yaitu: Jakobus Tampubolon dan Simon 
Siregar, memulai baptisan kudus yang dilakukan Pdt. Van Asselt di Sipirok 
(Nadeak et al., 1995). 
 Nama “Batak Mission” telah melekat dalam ingatan para penginjil RMG 
dan juga umat Kristen Batak yang terhimpun dalam berbagai huria/ jemaat. 
Penginjil Dr. Johannes Warneck (Ephorus sejak 1920-1932) menulis sebuah buku 
dalam rangka menyambut jubileum Batak-Mission ke-50 dan 60 tahun dengan 
judul: “Sechzing Jahre Batak Mission in Sumatera” (60 tahun Mission-Batak di 
Sumatera) oleh Warneck (1925). Pemaknaan sedemikian juga telah dijemaatkanoleh para pelaku sejarah “Batak Mission” sejak 1905: Tanggal 7 Oktober 1861 
adalah hari jadi “Batak Mission” di Tanah Batak. 
 Pada tahun 1936 HKBP mengadakan pesta Jubileum ke 75 tahun HKBP 
yang dipusatkan di Sipirok: 1861-1936. Pada kesempatan tersebut, diterbitkanlah 
buku Jubileum sebagai hasil karya tulis majelis pusat HKBP (Hoofdbestuur ni 
HKBP, t.t.). Lembaga penginjilan RMG terpaksa mengakhiri pelayanannya di 
Tanah Batak 1940 akibat perang dunia ke II. Pada tahun 1949 lembaga 
penginjilan RMG menyerah secara resmi seluruh assetnya di Tanah Batak kepada 
HKBP sebagai lembaga kegerejaan hasil lembaga Pekabaran Injil RMG. 
 Pemahaman akan makna hari lahir HKBP sedemikian juga dikemukakan 
Ephorus J. Sihombing dalam majalah “Immanuel” terbitan 1951, untuk mengingat 
90 tahun: “parmulaan ni ulaon ni Kongres mission Barmen (R.M.G) di tanonta 
on, manang ari htutubuni hurianta.... Pa 90-halion” (Sihombing, 1851). Artinya 
“permulaan pelayanan RMG di tanah kita atau Hari kelahiran Gereja kita”. DR. 
T.S Sihombing selaku sekjen HKBP dan redaktur Immanuel mengungkapkan 
apresiasi kepad lembaga RMG sebagai “ula-ula ni Debata” (alat di tangan Allah) 
untuk “pararathon barita nauli” (menyebarkan berita kesukaan) dan “paojakhon 
Huria ni Kristus i di tongatonga ni bangsonta” (mendirikan Gereja Kristus di 
tengah-tengah bangsa kita) (Sihombing, t.t:3). Beliau memandang bahwa lembaga 
RMG adalah “Ina ni Huria Kristen Batak Protestan (ibu dari HKBP) yang pada 
saat itu 1950 telah beranggotakan 600.000 orang. 
 Kata Huria bisa diartikan sebagai jemaat. Kata “Batak” menjadi salah satu 
identitas, sering dipahami khalayak ramai sebagai sisi pembatasan atauketertutupan bagi orang lain di luar suku Batak. Hal itu semakin diperkuat dengan 
asal muasal, tempat kelahiran dan kantor pusatnya di Tapanuli Utara, latar 
belakang dan sejarah pertumbuhan, perkembangan dan keanggotaannya yang 
mayoritas orang Batak. HKBP adalah suatu wadah persekutuan dari orang yang 
berasal dari segala kelompok, kalangan dan suku bangsa yang berada di seluruh 
Indonesia, serta di seluruh dunia ini, yang dibaptiskan ke dalam Nama Allah 
Bapa, AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus. Gereja merupakan suatu 
perwujudan nyata dari Tubuh Kristus, yang menyaksikan kesatuan orang percaya 
di seluruh dunia ini (Almanak HKBP 2018).
 Pada tahun 1862 sebelum Ingwer Ludwig Nommensen datang ke Tanah 
Batak, beberapa penginjil dari berbagai negara telah datang ke tanah Batak. 
Penginjil Pdt. Richard Burton dan Pdt. Nathaniel Ward adalah penginjil yang 
pertama datang ke Tanah Batak sebagai utusan dari Gereja Baptis Inggris pada 
tahun 1824. Mereka langsung pulang tanpa meninggalkan karyanya. Pada tahun 
1834 kedatangan Pdt. Samuel Munson dan Pdt. Henry Lyman yang di utus dari 
Sending Boston. Tetapi kedua pendeta tersebut mengalami nasib yang tragis, 
mereka terbunuh di Lobu Pining, Tapanuli Utara. Pada tahun 1849 Herman 
Neubronner Van der Tuuk dari Amsterdam yang menyalin sebagian injil ke 
bahasa Batak. Pada tahun 1857 kedatangan Pdt. Gerrit Van Asselt yang di 
tugaskan oleh Pdt. Witteven dari Ermelo, Belanda. Beliau berhasil membabtis 
orang Batak menjadi Kristen untuk yang pertama kali. 
 Ingwer Ludwig Nommensen adalah penginjil yang di utus RMG, suatu 
badan Zending di Jerman. Pada tanggal 20 Mei 1864 Nommensen berhasilmembangun jemaat di tanah Batak, yakni di Huta (desa) Dame di Saitnihuta 
Oppusumurung. Pada tahun 1881 Ingwer Ludwig Nommensen menjabat sebagai 
Ephorus HKBP sampai meninggal dunia pada tanggal 23 Mei 1918 di Sigumpar. 
Tahun pengangkatannya sebagai ephorus merupakan tahun terbitnya Tata Gereja 
(Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga) HKBP.4
 Selain melaksanakan 
pemberitaan injil sebagai tugas utama, I.L. Nommensen membuat sejarah HKBP 
yang tidak dapat di lupakan, yaitu: Pendidikan, Kesehatan, Pelayanan sosial 
komunikasi dan percetakan/ penerbitan. Sampai sekarang HKBP masih 
menjalankan yang di bangun I.L.Nommensen. 
 Dalam hal pendidikan, pada tahun 1868, HKBP telah membuka sekolah 
guru Parausorat, di Sipirok. Dalam bidang teologia, HKBP merupakan pelopor di 
Indonesia pada saat membuka sekolah Pendeta pada tahun 1883. Pada tanggal 2 
juni 1900 berhasil di bangun rumah sakit di Pearaja yang kemudian 
dikembangkan menjadi Rumah Sakit Tarutung. Selain itu, dalam bidang 
komunikasi pada tanggal 1 Januari 1890, HKBP menerbitkan majalah Immanuel. 
 Berikut ini adalah bagan organisasi HKBP. Dari bagan ini terlihat secara 
jelas bagaimana sistem kerja masing-masing mulai dari jabatan yang tertinggi 
yaitu Ephorus sampai yang terendah yakni seksi-seksi dalam jemaat. Dalam bagan 
ini juga terlihat posisi Dewan Marturia sebagai dewan yang membawahi bagian 
musik dan nanyian di HKBP. 
 
4
Ephorus adalah pimpinan tertinggi dalam struktur HKBP.
                                 👇
Sejarah HKBP Tanjung Sari Medan 
 Pada tahun 1984 merupakan suatu momentum yang menentukan bagi 
kehadiran jemaat HKBP di daerah Tanjung Sari Medan. Karena harus mengubah 
realitas dari tidak ada menjadi ada. Proses perubahan berawal atas tindakan Tuhan 
yang menginspirasi warga jemaat, sehingga mereka sejak akhir tahun 1983 
berkeinginan merintis pembentukan jemaat HKBP di Tanjung Sari Medan.
 Pada tahun 1984, keadaan daerah Tanjung Sari Medan belum seperti saat 
ini. Jalan yang masih empat meter dan masih aspal biasa juga sepanjang jalanberlubang-lubang. Jarak tempuh dari Tanjung Sari ke HKBP Sudirman bisa 
mencapai satu jam. Saat itu, kendaraan umum masih dapat dihitung dengan jari. 
Pada tahun 1980-an, jumlah orang Kristen Batak Toba yang bermukim di 
kelurahan Tanjung Sari Medan diperkirakan sekitar 200 orang. Kebanyakan 
mereka bukan lagi perantau dari Tanah Batak, tetapi merupakan generasi yang 
lahir di Medan. Bekerja sebagai pegawai negeri, pegawai swasta, polisi, militer, 
pengusaha, pedagang, pensiunan dan lain sebagainya. 
👉Latar Belakang Berdirinya Gereja HKBP Tanjung Sari Medan
 Pada akhir tahun 1983 di kalangan warga jemaat bergema suatu gagasan 
untuk mendirikan sebuah gedung Gereja sebagai tempat peribadahan orang 
Kristen (HKBP) di Tanjung Sari Medan. Gagasan tersebut pertama kali muncul 
dalam percakapan informal sejumlah warga HKBP di rumah Drs. K. Silalahi, 
jalan Dahlia II no.236 perumahan Pemda Tkt. I Tanjung Sari dan yang hadir pada 
saat itu antara lain adalah Drs. M. Tambunan, Drs. N. Nadapdap, Drs. Viktor 
Pangaribuan, Ak. Kemudian kerap menjadi topik pembicaraan sesama warga 
HKBP yang di sekitaran Tanjung Sari. 
 Suatu motivasi bagi mereka adalah supaya dapat lebih aktif mengikuti 
kegiatan Gereja, seperti kebaktian Minggu dan kebaktian sekolah Minggu. 
Mereka terdaftar sebagai warga jemaat di HKBP Sudirman, HKBP Medan Baru, 
HKBP Wahidin Baru, dan lain-lain. Tetapi karena faktor jarak yang relatif jauh 
sekitar 7-30 kilometer, mereka sering merasa kewalahan untuk mengikuti setiap 
kegiatan Gereja. Tanggapan yang sama mengemukakan warga jemaat yang mengutarakan 
aspirasinya kepada Pdt. Alboin Simanungkalit, pendeta HKBP resort Medan, Pdt. 
Wasinthon Simanjuntak, pendeta HKBP resort Medan Baru dan praeses HKBP 
distrik X Medan Aceh, Pdt. O.P.T. Simorangkir. Ketiga pendeta tersebut 
memotivasi warga HKBP Tanjung Sari agar melengkapi persyaratan administratif 
sesuai dengan ketentuan Peraturan HKBP1982-1992, bab I.A.2.a tentang 
Mamukka Huria atau membentuk jemaat (J.R.Hutauruk, 2012) 
Bila terdapat sejumlah orang Kristen di suatu tempat 
yang berjarak jauh (terpencil) dari tempat kedudukan 
HKBP yang hendak membentuk jemaat, hendaklah 
menulis surat permintaan kepada Pendeta terdekat agar 
Pendeta itu dapat mengambil langkah seperlunya” 
(Rumusan senada termasuk dalam Aturan HKBP 2002, 
bab I.1-3). 
 Dalam hal itu, warga jemaat juga memperoleh penjelasan tentang syarat-
ssyarat meresmikan berdirinya sebuah jemaat sebagaimana ditetapkan dalam 
Peraturan HKBP 1982-1992, bab I.A.2.b tentang Pajaehon sada Huria atau 
meresmikan berdirinya suatu Jemaat: 
Telah ada sedikitnya 25 (dua puluh lima) rumah tangga 
yang merupakan anggotanya; Telah ada orang yang 
mampu memimpin kebaktian Minggu serta pekerjaan 
Gerejawi dan mengetahui Tata Gereja; Ada tempat 
pertemuan yang dapat dipergunakan untuk kebaktian 
Minggu dan untuk pekerjaan lain yang bisa dimanfaatkan 
oleh jemaat itu; Ada pengakuan dari jemaat itu, bahwa 
mereka mampu membiayai para pelayan, membayar 
iuran umum HKBP dan segala suatu yang berkaitan 
dengan pekerjaan Gerejawi dan kesiapan jemaat itu untuk 
memahami memenuhi ketentuan Sinode Godang” 
(Rumusan senada termasuk dalam Aturan HKBP 2002, 
bab I.1-3). 
Pertemuan pertama berlangsung ketika warga jemaat dalam suasana Tahun 
Baru berkumpul di rumah Drs. J. H. Simatupang, jalan teratai perumahan pemda 
Tkt I Medan. Dihadiri oleh 20 orang, terdiri atas 15 kaum bapak dan 5 kaum ibu 
yaitu: Pdt. Prof. Dr. F.H. Sianipar, Drs. J.H. Simatupang dan Ny. Br. Sinambela, 
St.O.M. Pardede dan Ny.br. Hutagalung, St. Mayor Pol. (Purn) B.G. Marpaung, 
Drs. M.Tambunan dan Ny.br. simorangkir, Drs.L.B.Manullang, Drs. C.Manalu 
dan Ny.br. Hutabarat, Drs. Viktor Pangaribuan,Ak., St.F.S. Silalahi, P.M. 
Sipahutar, S.M. Manalu B.Sc., S. Sianturi dan Ny.br. Siburian, Serma Pol. M. 
Simatupang, Serma Pol.M.Silitonga, Drs.A.P. Tambunan. Mereka adalah jemaat 
HKBP dan sepakat untuk mendata warga jemaat HKBP di kelurahan Tanjung Sari 
Medan sekitarnya. 
Pada tanggal 21 Januari 1984 diadakan pertemuan lanjutan di rumah Drs. 
M. Tambunan, jalan teratai no. 208 perumahan Pemda Tkt.I Medan yang dihadiri 
21 orang jemaat. Pertemuan ini menyepakati panitia persiapan pembentukan 
jemaat HKBP Tanjung Sari antara lain: 
1. St. O.M. Pardede (ketua) 
2. Drs. M. Tambunan (sekretaris) 
Untuk memudahkan koordinasi, warga jemaat sepakat menetapkan rumah 
Drs. M. Tambunan di komplek perumahan Pemda Tkt. I, sebagai kantor 
sekretariat sementara. Fungsi dari sekretariat ini adalah sebagai tempat pertemuan 
maupun rapat dalam rangka pembentukan jemaat HKBP Tanjung Sari. Pada 
tanggal 23 September 1984 kantor sekretariat di pindahkan ke Gereja HKBP 
Tanjung Sari Medan. 
Pada Minggu, 12 Februari 1984 berlangsung kebaktian Minggu perdana di 
Gereja Persekutuan Oikumene Umat Kristen (POUK) Tanjung Sari. Kebaktian 
Minggu ini kemudian di tetapkan sebagai tonggak sejarah hari jadi HKBP 
Tanjung Sari. Kebaktian dipimpin oleh Pdt. A. Simanukalit, pendeta HKBP resort 
jalan Sudirman Medan. Acara dimulai jam 13.30 WIB. Dihadiri 200 orang warga 
jemaat yang terdaftar menjadi warga jemaat HKBP Tanjung Sari, terdiri atas 
kaum bapak, kaum ibu, pemuda-pemudi, remaja dan anak-anak sekolah Minggu. 
Kebaktian selalu berlangsung setiap hari Minggu. Penggunaan gedung 
gereja POUK berdasarkan kesepakatan perjanjian antara panitia persiapan jemaat 
HKBP Tanjung sari dengan pengurus majelis jemaat POUK. Gereja POUK dapat 
di gunakan selama enam bulan (Februari-September 1984), tanpa disewa. Dalam 
kurun waktu 6 bulan tersebut berupaya agar dapat memiliki gedung gereja sendiri. 
Pada hari Senin, 23 Juli 1984 jemaat HKBP Tanjung Sari Medan yang 
diantaranya: Drs. M. Tambunan, Drs. N.D. Malau, Drs. Viktor Pangaribuan, Ak, 
B.P. Sianturi dan P.M. Sipahutar menemui keluarga M.U. Bangun ke rumahnya di 
jalan Jamin Ginting No.979/889 Padang Bulan Medan. Tujuan nya untuk membeli 
tanah seluas 2.240 meter persegi (40 x 56 m), seharga Rp. 13.400.000.- atau 
sekitar Rp.6000,-/ meter persegi. Panitia menyerahkan panjar sebagai tanda jadi 
sebesar Rp.200.000,- . 
Lokasi komplek gereja secara bertahap semakin luas. Pada tahun 1992, 
jemaat membeli tanah seluas 1.365 meter persegi (15 x 91 m). Kemudian pada 29 
Mei 1993 bertambah lagi seluas 455 meter persegi (5 x 91 m) di beli seharga 
Rp.5.000.000.-. Dengan demikian, luas tanah HKBP Tanjung Sari sekarangsekitar 4.060 meter persegi. Semua tanah dibeli dari keluarga M.U. Bangun, 
warga jemaat GBKP. 
Pada bulan Juli 1984, proses pembangunan gedung gereja di mulai. 
Bangunan di rancang semi permanen dengan ukuran 9 x 20 meter, di lengkapi 
dengan teras, rumah penjaga dan kamar mandi. Proses pembangunan di awali 
dengan mengadakan ibadah bersama. Teknis pembangunan di kelola 3 orang 
tukang, yaitu: St. F. Purba, B. Tarihoran, S. Manalu. Ketiganya adalah warga 
jemaat HKBP Tanjung Sari. Mereka di bantu jemaat yang secara sukarela hadir 
bergotong royong setiap hari. Pembangunan selesai pada 20 September 1984. 
Sehubungan dengan penetapan sebagai huria na gok (jemaat penuh), 
persiapan berlangsung selama bulan November 1986. Permohonan agar ephorus 
HKBP memimpin ibadah peresmian. Pesta peresmian berlangsung pada Minggu, 
7 Desember 1986. Dengan status huria na gok, jemaat HKBP Tanjung Sari secara 
resmi menjadi jemaat yang berdiri sendiri. Jumlah warga jemaat saat itu adalah 
160 rumah tangga. 
Pada tanggal 19 November 1997, kerinduan jemaat akan kehadiran 
Pendeta terkabulkan. Pdt. Gerhard Sihombing, STh ditempatkan melayani HKBP 
Tanjung sari dan mengemban tugas sebagai guru jemaat. ` 
Pada bulan Oktober 1997, direncanakan untuk membangun gedung gereja 
permanen. Pada saat itu warga jemaat telah mencapai 450 rumah tangga. Luas 
bangunan direncanakan berukuran 24 m x 36 m.

👉Perkembangan Gereja HKBP Tanjung Sari 
Tahun 1999 merupakan awal babak baru bagi warga jemaat HKBP 
Tanjung Sari. Pada tahun ini, Gereja mengalami peralihan status dari huria 
pagaran (jemaat cabang) HKBP resort Medan Baru menjadi huria sabungan 
(jemaat induk) HKBP resort Tanjung Sari. Peralihan ini mengindikasikan suatu 
perkembangan kualitatif, khususnya dalam tatanan struktur kelembagaan HKBP. 
Pada bulan November 2003 secara resmi dimulai pembangunan gedung 
gereja tahap kedua, melanjutkan fondasi pada tahun 1997 dan tanpa membongkar 
bangunan gereja lama. Pada tanggal 26 April 2004 dimulai pemasangan tiang dan 
balok penyangga bangunan. Semua terlaksana dengan baik, tanpa hambatan yangberarti. Namun empat hari kemudian, 30 April 2004 sekitar jam 14:30 WIB, saat 
hujan disertai tiupan angin yang kencang melanda kawasan Tanjung Sari, 
konstruksi kuda-kuda rangka baja rubuh dan menimpa bangunan gereja lama. 
Pada Selasa, 17 Agustus 2004, pembangunan gedung gereja yang baru 
segera dimulai, berukuran 24 meter x 36 meter. Pembangunan gedung gereja 
berbiaya enam ratus juta rupiah, rampung pada Agustus 2005. Pada Sabtu, 13 
Agustus 2005 diadakan pesta syukuran satu tahun pembangunan gereja sekaligus 
sebagai tanda memasuki gedung gereja yang baru dan bangunan gereja tersebut 
dipakai sampai saat ini. 
👉Struktur Gereja HKBP Tanjung Sari Medan 
Stuktur adalah suatu susunan atau kerangka dalam suatu organisai. 
Susunan pengurus pada Gereja HKBP Tnajung Sari Medan adalah sebagai 
berikut: 
1. Pendeta Resort : Pdt. Maulinus Ulises W. Siregar, STh 
2. Pendeta Fungsional : Pdt. Udur E. Aritonang, STh 
3. Pendeta Fungsional : Pdt. Marhehe Sahala M Pasaribu, STh 
4. Pendeta NHKBP : Pdt. Reinhart I.M. Panjaitan, STh 
5. Bibelvrouw : M. B. Bv. Silaban 
6. Sekretaris Huria : St. Ampera Simbolon, SE. 
7. Bendahara Huria : St. Ir. J. H. Rajagukguk 
8. Parartaon : P.Marbun, SE., M.Si 
9. Seksi Pembangunan : St. Drs. Gandi Tambunan, M.Si.                                                      10. Seksi Sekolah Minggu : Tiurma Br Manurung 
11. Seksi Koinonia : St. H.I. Sianturi, SKM 
12. Seksi Marturia : St. Dr. J.Simatupang 
13. Seksi Diakonia : St. R. Hutauruk 
14. Seksi NHKBP : David Sitinjak 
15. Koor Parompuan : Ny. I. Siahaan Br Simanjuntak 
16. Koor Ama : Ir. Juner Mantondang
 👉Waktu dan Tempat Penyajian Musik yang dipakai dalam Ibadah 
 Pada awal terbentuknya Gereja HKBP tanjung Sari Medan, mereka 
beribadah pertama kali di Gereja Persekutuan Oikumene Umat Kristen (POUK). 
Mereka menggunakan Gereja tersebut atas kesepakatan perjanjian antara panitia 
persiapan jemaat HKBP Tanjung Sari Medan dengan pengurus majelis jemaat 
POUK. Pada Minggu, 23 September 1984 mereka telah kebaktian perdana di 
gedung gereja milik jemaat HKBP Tanjung Sari Medan. 
 Pada tahun 2011 hingga saat ini, di Gereja HKBP Tanjung Sari Medan 
telah di adakan 5 kali ibadah, yaitu: Ibadah subuh (06:00), Sekolah Minggu 
(08:00), Ibadah Pagi (08:00), Ibadah Siang (10:30), Ibadah sore (17:00). Dalam 
ibadah setiap minggunya khusunya ibadah pagi, siang dan sore alat musik 
pengiring yang di pakai berbeda-beda. Pada ibadah pagi menggunakan alat musik 
keyboard, bas, drum, gitar akustik, saxophone, sulim, dan taganing. Di ibadah 
siang menggunakan alat musik keyboard, gitar akustik, saxophone. Di ibadah sore 
menggunakan keyboard, drum, gitar akustik, saxophone, bas, taganing. Ibadah 
pagi dan sore menggunakan bahasa indonesia dan ibadah siang menggunakan 
bahasa Batak Toba. 
👉Analisis Ibadah
 Bagi umat Kristen sudah menjadi kewajiban pada hari Minggu pergi 
beribadah ke Gereja, karena ada tertulis dalam Alkitab5
 Keluaran 20: 8 
mengatakan “ingat dan kuduskan lah hari sabat”.Berdasarkan pengamatan saya di lapangan, pada saat ibadah akan segera 
di mulai, lonceng gereja akan dibunyikan dan saat itu jemaat berdoa (saat teduh) 
untuk menyerahkan dirinya kepada Tuhan dan menyiapkan hatinya mengikuti 
ibadah. Seluruh petugas pelayanan ibadah Gereja mengambil tempat masing-
masing di antaranya: pengkhotbah, paragenda, kolekte, pemain musik dan juga 
songleader. Dalam ibadah setiap minggunya yang berkhotbah6
 adalah pendeta 
atau bibelvro, paragenda atau liturgis yang sering di bawakan oleh sintua7
, 
kolekte atau pengumpulan persembahan di tugaskan pada sintua, devisi musik dan 
songleader bertugas untuk memimpin lagu puji-pujian yang dinyanyikan dalam 
ibadah. 
 Tata ibadah pada Gereja HKBP dan artinya sebagai berikut: 
1. Nyanyian Bersama. Nyanyian pembukaan ini adalah kesiapan hati kita 
untuk mengikuti panggilan ibadah tersebut.
2. Votum - Introitus – Doa Pembukaan. Votum adalah materai pertanda 
bahwa Allah hadir dalam ibadah tersebut dengan ucapan “Di dalam Nama 
Allah Bapa, dan Nama Anak-Nya Tuhan Yesus Kristus, dan Nama Roh 
Kudus.” Inilah yang membedakan ibadah dengan pertemuan biasa. Ibadah 
adalah persekutuan umat percaya yang menyambut kedatangan dan 
kehadiran Allah. Introitus adalah pernyataan atau ajakan yang dikutip dari 
nas Alkitab. Bacaan ini diambil berdasarkan Minggu Gerejawi tertentu. 
Nas Alkitab ini juga menandakan bahwa jemaat sedang berada dalam 
suasana perayaan Minggu Gerejawi tertentu. Nas Alkitab ini di sambut 
 
6Berkhotbah adalah menyampaikan firman Tuhan yang sering di lakukan oleh Pendeta 
dan juga Guru Huria. 
7
Paragenda/ liturgis adalah orang yang membacakan tata ibadah. 

jemaat dengan menyanyikan “Haleluya” yang artinya “Pujilah Tuhan!”
Sambutan Jemaat disusul dengan doa pembukaan yang menekankan unsur 
kebersamaan. Doa ini disampaikan bersama, memohon agar Tuhan Allah 
mengatur dan memimpin ibadah tersebut.
3. Nyanyian Bersama. Nyayian ini harus sesuai dengan Hari Raya Gerejawi 
dan merupakan respon Jemaat terhadap doa pembukaan.
4. Pembacaan Hukum Taurat. Bagian ini adalah lanjutan dari nyanyian 
pembukaan dalam ibadah. Maksudnya, dengan memperdengarkan serta 
memahami Hukum Taurat dari Allah, anggota Jemaat yang beribadah 
sadar akan kesalahan-kesalahan dan pelanggaran yang dilakukan (Roma 
3:20b). Hukum Taurat yang dibacakan bisa juga berfungsi sebagai cermin 
diri dan peringatan akan dosa kita. Jemaat menyambut dengan memohon 
kekuatan untuk melakukan Taurat-Nya.
5. Nyanyian Bersama. Nyanyian ini berisi respon Jemaat atas harapan Allah 
untuk menjalankan hukum Tuhan. Isi nyanyian ini harus berkaitan dengan 
Hukum Taurat.
6. Pengakuan Dosa. Setelah jemaat sadar akan dosa-dosanya, maka tibalah 
saat untuk mengaku dosa-dosa tersebut ke hadapan Tuhan. Melalui “doa 
pengampunan dosa” jemaat memohon dalam kerendahan hati dan mengiba 
kepada Tuhan agar dosanya diampuni (Luk. 15:21). Untuk masuk kedalam 
persekutuan dengan Allah, maka segala dosa harus terlebih dahulu 
dibersihkan. Setelah berdoa, janji Allah akan pengampunan dosa kita akan 
dibacakan. Allah mengampuni dosa dari orang yang telah mengakui danmenyesali dosa-dosanya (Yeh. 33:11). Setelah mendengar pengampunan 
dosa, kita bersukacita dan memuji Tuhan dengan mengucapkan 
“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang Maha Tinggi. Amin.”
7. Nyanyian Bersama. Nyanyian ini adalah respon Jemaat atas 
pengampunan dosanya.
8. Pembacaan Firman (Epistel). Setelah umat mengakui dosanya, maka 
Allah datang menyapa umatNya melalui Firman yang dibacakan sebagai 
petunjuk hidup baru. Ini adalah kata-kata Allah menyapa umat-Nya 
melalui surat kiriman (Epistel), yang isinya untuk mendorong umat 
berbuat baik dan bersaksi. Setelah pembacaan Alkitab, Liturgis 
membacakan “Berbahagialah mereka yang mendengarkan dan memelihara 
Firman Allah. Amin.” Perkataan ini bermaksud agar umat mengingat 
bahwa Firman Allah adalah untuk diindahkan, bukan untuk di diamkan 
saja.
9. Nyanyian Bersama. Nyanyian ini adalah respon umat atas pembacaan 
Alkitab. Karenanya, nyanyian pun harus sesuai dengan pembacaan Epistel.
10. Pengakuan Iman Rasuli. Bagian ini adalah bagian yang harus ada dalam 
setiap ibadah Umat Kristen karena melalui bagian ini kita mengucapkan 
pengakuan iman kita akan Trinitatis: Allah Bapa, Tuhan Yesus Kristus, 
dan Roh Kudus. Kita mengakui ini karena dosa yang telah dihapuskan dan 
Firman Allah (Epistel) yang telah dibacakan mendorong kita untuk 
mengakui iman kepercayaan kita.
11. Warta jemaat. Bagian ini sering kali dirasa tidak perlu terdapat dalam 
ibadah. Namun, HKBP memasukkan Warta Jemaat sebagian dari ibadah 
karena sesuai kegiatan Jemaat adalah Karya Allah dalam hidup kita. 
Karena itu, Warta Jemaat sebenarnya hanya berisi hal-hal yang ada 
kaitannya langsung dengan kehidupan Jemaat. Setelah Warta, Jemaat 
mendoakan hal-hal tersebut.
12. Nyanyian Bersama. Nyanyian ini merupakan respon Jemaat akan 
pengakuan imannya, sekaligus pengantar untuk khotbah yang akan 
didengarkan. Persebahan juga dikumpulkan pada waktu ini. Hal ini berarti 
bahwa mereka yang bersaksi melalui Pengakuan Iman, bersaksi juga 
melalui pengakuan akan berkat Tuhan yang diterimanya dan kesediaan 
hatinya untuk memberikan “persembahan syukur” sesuai dengan Taurat.
13. Khotbah. Puncak dari acara kebaktian Minggu. Semua bagian dari ibadah 
Minggu tidak boleh lepas dari nas khotbah yang akan disampaikan. 
Khotbah bukanlah pidato atau ceramah, melainkan Allah yang berbicara 
melalui pengkhotbah, sebagai bekal hidup, pegangan dan penuntun hidup 
Jemaat.
14. Nyanyian Bersama. Nyanyian bersama ini adalah untuk merespon 
Firman Tuhan yang baru saja didengar dan sekaligus sebagai penekanan 
kembali khotbah tersebut. Karena khotbah adalah klimaks, maka 
sebaiknya tidak ada lagi acara yang dilakukan setelah khotbah.
15. Doa Persembahan dan Nyanyian Persembahan. Sebelum pulang 
ketempat masing-masing Jemaat masih diajak untuk mendoakan 

persembahan yang telah diberikan karena segala sesuatu perlu dibawa di 
dalam Doa (Kol. 1:3). Jemaat menyambut doa tersebut dengan nyanyian 
bersama yang menyatakan bahwa segala hal harus di serahkan kepada 
Tuhan (BE 204:2)
16. Doa Penutup/ Doa Bapa Kami. Jika ibadah dibuka dengan doa, maka 
diakhiri juga dengan doa. Doa penutup juga harus disesuaikan dengan hari 
raya gerejawi. Setelah itu doa tersebut disambung dengan Doa Bapa Kami. 
Ini merupakan doa yang mencakup segala kepentingan Allah dan 
kebutuhan manusia. Itulah sebabnya ini menjadi bagian akhir pada doa 
penutup.
17. Doksologi. Doksologi adalah bagian dari Doa Bapa Kami yang 
dinyanyikan jemaat sebagai respon atas seluruh karya anugerah Allah. 
Allah dipuji dan dimuliakan karena, Dia adalah pemilik segala sesuatu dan 
pemberi segala sesuatu (Mat. 6:13).
18. Berkat. Berkat yang ditulis di (Bil. 6:24-26) adalah berkat yang juga 
diberikan kepada Umat Israel. Melalui berkat ini kita memahami bahwa 
Allah juga telah memberkati jemaat dengan berkat yang sama. Sebagai 
sambutan iman, maka jemaat menyanyikan “Amin, Amin, Amin!” yang 
berarti “ya benar! Terjadilah.”
👉Alat-Alat Musik yang Dipakai dalam Ibadah 
 Berdasarkan penelitian penulis, mulai berdirinya Gereja HKBP Tanjung 
Sari Medan (1984-2004) masih menggunakan poti marende, piano elektrikclavinova yang bermain musiknya tunggal/ sendiri saja. Tetapi mulai tahun 2004 
sampai saat ini telah menggunakan formasi alat-alat musik dalam formasi band. 
Alat musik yang di pakai saat ini terdiri dari keyboard, piano, biola, drumset, gitar 
bas, gitar akustik, saxophone, sulim, taganing. Adapun alat-alat musik dalam 
formasi band ini, penulis akan menjelaskan pada paragraf di bawah ini.
1. Keyboard 
Keyboard adalah sebuah alat musik yang memiliki bilah-bilah nada atau tuts 
susunan khusus dan dimainkan dengan menggunakan jari tangan. Susunan 
tombol-tombol keyboard searah dengan logika berpikir manusia, yaitu bagian kiri 
bernada rendah dan bagian kanan bernada tinggi. Keyboard dapat memainkan 
beragam suara seperti suara terompet, gitar, biola, saxophone, suara beberapa 
perkusi dan lain-lain. Di Gereja HKBP Tanjung Sari Medan di dalam ibadah nya 
menggunakan dua jenis tipe keyboard yaitu: keyboard tipe Yamaha PSR-S910 
dan keyboard tipe Yamaha PSR-S950. 

Biola (violin) 

 Biola atau violin sering kali disebut sebagai fiddle yang memiliki senar 

dengan nada G, D, A, E, biola secara universal dikagumi karena nada nyanyian 

nya yang membawa instrumen paling dekat dengan suara manusia. Biola termasuk 

dalam klasifikasi chordophone. Biola yang di pakai yaitu merek Oliv. Di dalam 

ibadah Gereja HKBP Tanjung Sari biola berfungsi sebagai pembawa melodi.

Drumset 

Drum merupakan serangkaian alat musik perkusi dengan berbagai bentuk 

dan ukuran serta suara yang berbeda-beda biasanya mengacu kepada satu set 

drum, yaitu sekelompok drum yang biasanya terdiri dari snare drum, tom-tom, bas 

drum, cymbal, hi-hat. Drum yang digunakan yaitu merek Rolling dan Orang yang 

memainkannya disebut drummer. 

Gitar Bas 
 Gitar bas elektrik merupakan alat musik yang bersenar empat atau lima yang 
mempunyai nada diatonik, alat musik ini dimainkan dengan cara dipetik 
menggunakan jari atau plectrum dan dimainkan oleh satu orang pemain. Gitar bas 
elektrik termasuk kedalam klarifiksi chordophone. Gitar bas elektrik berfungsi 
sebagai pembawa ritme. 
 Gitar bas elektrik menggunakan listrik untuk memperbesar suara dari bas 
tersebut. Gitar bas elektrik penampilannya mirip dengan gitar elektrik tetapi gitar 
bas elektrik memiliki badan yang lebih besar, neck (leher) yang lebih panjang danbiasanya memiliki empat atau lima senar, namun ada juga yang memiliki enam 
senar. Di Gereja HKBP Tanjung Sari merek gitar bas elektriknya adalah gillmore 
dengan senar empat buah. Pemain gitar bas elektrik di HKBP Tanjung Sari 
tersebut memainkan bas nya dengan posisi duduk. 
Gitar Akustik 
 Gitar akustik merupakan alat musik bersenar enam yang mempunyai nada 
diatonik, alat musik ini dimainkan dengan cara dipetik menggunakan jari atau 
plectrum dan dimainkan oleh satu orang pemain. Gitar akustik termasuk kedalam 
klarifikasi chordophone. Gitar yang dipakai yaitu merek Fender. Gitar akustik 
berfungsi sebagai pembawa ritme dan melodi. Di HKBP Tanjung Sari pemain 
gitar akustik memainkan gitarnya dengan posisi berdiri.
Saxophone 
Saxophone adalah alat musik yang masuk dalam klarifikasi aerophone atau 
alat musik tiup. Pada umumnya saxophone terbuat dari logam dan dimainkan 
menggunakan single-reed. Saxophone umumnya dihubungkan dengan popular 
musik, big band musik dan jazz. Saxophone yang di pakai merek Yamaha Yas-
280 dan berfungsi sebagai pembawa melodi. Di HKBP Tanjung Sari pemain 
saxophone memainkannya dengan posisi berdiri.
Sulim (seruling) 
 Sulim (seruling) adalah sejenis instrumen tiup bambu yang berasal dari 
Batak Toba di Sumatera Utara. Sulim termasuk dalam klarifikasi aerophone 
dengan spesifikasi side blown flute yang terdiri dari sebuah lobang tiupan dan 6 
(enam) buah lobang nada. Sulim hampir sama dengan seruling yang ada pada etnis 
lain pada umumnya. Yang membedakan hanya penambahan lobang yang di balut 
oleh sebilah kertas atau plastik. Fungsinya menciptakan warna bunyi yang 
menjadi khas tersendiri dibanding dengan seruling lainnya. sulim berfungsi 
sebagai pembawa melodi. Satu sulim memiliki satu nada dasar saja. Sehingga 
pada saat mengiringi nyanyian dalam ibadah harus mempersiapkan dua belas (12) 
nada dasar sulim yang diantaranya: A, B, C, D, E, F, G, Bes, Cis, Es, Fis, Gis. Di
Gereja HKBP Tanjung Sari memainkan sulim dengan posisi berdiri.
Taganing 
Taganing merupakan seperangkat gendang bernada bermuka satu yang 
tersusun atas enam buah gendang yang berfungsi sebagai pembawa melodi dan 
juga pembawa rhythm variable. Lima gendang dibedakan sesuai dengan nama 
masing-masing yakni odap-odap, paiduani odap, painonga, paiduani ting-ting 
dan ting-ting dan satu Gordang. Taganing ini tergolong dalam klarifikasi 
membranophone. Di Gereja HKBP Tanjung Sari pemain taganing memainkannya 
dengan posisi duduk.


Jika ada penulisan kata salah mohon di maklumi 

🙏Terimakasih🙏

TUHAN YESUS MEMBERKATI 

KAMPUS ITBI JAYA 







Komentar